Kisah Sukses Taqwa Nur Ibad: Tempuh Jalur Linier dari D2 hingga Doktor S3 PGMI, dengan Masa Studi 2 Tahun 11 Bulan

Yogyakarta, 24 Agustus 2026 — Palu sidang diketukkan. Ruang sidang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terasa khidmat. Di hadapan para promotor, dewan penguji, keluarga, dan sahabat, Taqwa Nur Ibad, S.Pd., M.Pd.I., resmi menyandang gelar doktor setelah menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Senin (24/8/2026).

Taqwa, anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, merupakan putra pasangan almarhum Sukandar, B.A., seorang pensiunan guru agama PGAN Kota Probolinggo, dan almarhumah Sudarsih. Dalam sidang tersebut, ia mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pola Interaksi Edukatif Guru Kelas dan Orang Tua Berbasis Profil Siswa (Studi di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam).”

Di ruang sidang, Taqwa didampingi sang istri tercinta, Yekti Rahayuningtyas, S.E., yang setia menemani perjalanan akademiknya. Hadir pula ketiga buah hatinya, Adiva, Alfar, dan Alya, yang turut menjadi saksi atas pencapaian penting dalam perjalanan pendidikan sang ayah. Dukungan juga hadir dari kedua mertuanya, Drs. Suwito dan Dra. Sundari, yang merupakan pensiunan guru SMA Negeri 3 Lumajang, masing-masing pada bidang Bimbingan dan Konseling serta Geografi.

Sidang terbuka tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Sigit Purnama, S.Pd.I., M.Pd. selaku Ketua Sidang, dengan Dr. Sintha Sih Dewanti, S.Pd.Si., M.Pd.Si. sebagai Sekretaris Sidang. Taqwa dibimbing oleh Prof. Dr. Istiningsih, M.Pd. selaku Promotor I dan Dr. Ir. Sumarsono, S.T., M.Kom. selaku Promotor II.

Adapun Dewan Penguji terdiri atas Prof. Dr. Hj. Maemonah, M.Ag., Prof. Dr. H. Mahmud Arif, M.Ag., Dr. Aji Joko Budi Pramono, S.T., M.T., dan Dr. Andi Prastowo, S.Pd.I., M.Pd.I.

Capaian Taqwa menjadi semakin istimewa karena ia tercatat sebagai lulusan kedua Program Studi Doktor (S3) PGMI di Indonesia. Ia juga merupakan bagian dari angkatan pertama Program Studi S3 PGMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2023, yang pada awalnya terdiri atas 23 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang dari beragam latar belakang dan wilayah, dipertemukan dalam satu angkatan untuk menempuh pendidikan doktoral di bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Yang tak kalah menarik, perjalanan akademik Taqwa ditempuh secara linier sejak jenjang D2 hingga S3, seluruhnya dalam bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Dari D2 PGMI, S1 PGMI, S2 PGMI, hingga S3 PGMI, setiap jenjang pendidikan menjadi kelanjutan dari bidang yang sama. Konsistensi tersebut mencerminkan ketekunan Taqwa dalam menekuni dunia pendidikan dasar dan madrasah.

Khusus pada jenjang doktoral, pendidikan S3 PGMI berhasil diselesaikan dalam 6 semester atau 2 tahun 11 bulan. Dalam penyelesaian studinya, Taqwa juga meraih predikat cum laude dengan nilai akhir A, sebuah capaian yang melengkapi perjalanan akademiknya.

Disertasi tersebut menghasilkan sebuah konstruksi yang dirumuskan sebagai “Pola Interaksi Edukatif Adaptif dalam Kontinum Kebutuhan Bantuan Siswa.” Konsep ini menunjukkan bahwa interaksi antara guru dan orang tua tidak berlangsung secara kaku sebagai tahapan yang tetap, melainkan bergerak secara adaptif mengikuti perubahan kebutuhan bantuan siswa.

Bagi Taqwa, pencapaian gelar doktor bukan sekadar keberhasilan akademik. Di baliknya terdapat perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, doa, pengorbanan, dan kerinduan kepada keluarga.

Sebagai anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, ia tumbuh dalam nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Meski sang ayah, Sukandar, B.A., dan ibunda, Sudarsih, telah berpulang, jejak perjuangan mereka sebagai pendidik terus mengalir dalam diri Taqwa.

Kini, Taqwa tinggal di Lumajang bersama istri dan ketiga anaknya. Di tengah kesibukannya sebagai dosen tetap di Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong Probolinggo, ia tetap menjalankan peran sebagai suami dan ayah. Dukungan keluarga besar, baik dari keluarga kandung maupun keluarga mertua, menjadi kekuatan penting dalam perjalanan akademiknya.

Dan Yogyakarta menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kisah tersebut.

"Kotamu tidak sekadar menjadi kota pendidikan yang akan selalu kukenang. Bagiku, kotamu teristimewa karena tersimpul perjuangan dan terselip kemerdekaan.”

Kini, perjalanan akademik itu telah sampai pada satu titik. Namun, gelar doktor bukanlah akhir.

Dari D2 menuju doktor.
Dari ruang-ruang kuliah menuju ruang pengabdian.
Dari sebuah perjuangan menuju amanah untuk menghidupkan ilmu.

Yogyakarta menjadi saksi.
PGMI menjadi jalan.
Dan pengabdian menjadi tujuan.