DARI KELUARGA BROKEN HOME, MAULIDIN UKIR SEJARAH: DUA GELAR DOKTOR, KINI KEMBANGKAN APLIKASI VR UNTUK MEMBANGUN GENERASI MADRASAH YANG INKLUSIF

Yogyakarta, 27 Agustus 2026 — Perjalanan akademik yang tidak biasa kembali ditorehkan oleh Dr. Mohammad Maulidin Alif Utama, M.Pd. Setelah sebelumnya berhasil meraih gelar doktor dari Program Doktor Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Salatiga, Maulidin kembali menapaki panggung akademik tertinggi melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor untuk kedua kalinya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Dalam sidang terbuka tersebut, Maulidin mempertahankan disertasi berjudul:
“Pengembangan Aplikasi Moderasi Beragama Berbasis Virtual Reality untuk Membangun Sikap Inklusif bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Tangerang.”
Penelitian ini menghadirkan sebuah inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan moderasi beragama, teknologi Virtual Reality (VR), dan pendidikan karakter siswa madrasah ibtidaiyah. Melalui teknologi imersif tersebut, nilai-nilai moderasi beragama tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi dihadirkan melalui pengalaman belajar yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan situasi dan lingkungan pembelajaran secara lebih kontekstual.
Diuji Delapan Guru Besar dan Akademisi
Sidang terbuka berlangsung dengan menghadirkan delapan penguji yang memiliki kepakaran di bidang pendidikan, pendidikan Islam, serta kajian terkait.
Dewan penguji terdiri atas:
1. Prof. Maemonah – Ketua Penguji
2. Dr. Sintha Sih Dewanti, S.Pd.Si., M.Pd.Si. – Sekretaris Penguji
3. Prof. Dr. H. Sangkot Sirait, M.Ag. – Penguji I/Promotor
4. Dr. H. Karwadi, S.Ag., M.Ag. – Penguji II/Co-Promotor
5. Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag. – Penguji/UIN Salatiga
6. Prof. Dr. Sigit Purnama, S.Pd.I., M.Pd. – Penguji
7. Prof. Dr. Na’imah, M.Hum. – Penguji
8. Prof. Dr. Sri Sumarni – Penguji
Di hadapan dewan penguji, Maulidin memaparkan gagasan akademiknya mengenai pentingnya menghadirkan pendekatan baru dalam pembelajaran moderasi beragama bagi anak usia madrasah ibtidaiyah.
Menurutnya, pendidikan moderasi beragama perlu diberikan sejak dini melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik generasi yang tumbuh dalam lingkungan teknologi digital. Karena itu, teknologi Virtual Reality dikembangkan bukan sekadar sebagai media hiburan atau permainan, melainkan sebagai media pembelajaran yang dirancang untuk membangun pengalaman, pemahaman, dan sikap inklusif siswa.
Bukan Sekadar Teknologi, tetapi Membangun Sikap Inklusif
Disertasi tersebut menempatkan teknologi sebagai instrumen pedagogis untuk membangun karakter peserta didik.
Aplikasi yang dikembangkan diarahkan untuk membantu siswa memahami nilai-nilai seperti toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, sikap terbuka, hidup berdampingan, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Gagasan tersebut menjadi penting karena pendidikan moderasi beragama pada jenjang MI tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan siswa memahami konsep. Lebih jauh, pembelajaran harus mampu mendorong terbentuknya sikap dan perilaku inklusif dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, VR dalam penelitian Maulidin diposisikan sebagai jembatan antara pengetahuan, pengalaman belajar, dan pembentukan karakter.
Dua Kali Sidang Terbuka Doktor: Sebuah Perjalanan yang Tidak Biasa
Capaian ini menjadi semakin istimewa karena sidang terbuka di UIN Sunan Kalijaga merupakan sidang doktor kedua yang dijalani Maulidin.
Sebelumnya, pada 29 Juni 2026, Maulidin telah berhasil menyelesaikan studi doktoral di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Salatiga melalui disertasi berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Keislaman Berbasis Kearifan Lokal Melalui Aplikasi Generative Digital Culture (GDC) pada Generasi Z (Studi pada PTKIS di Provinsi Banten).”
Pascasarjana UIN Salatiga mencatat bahwa melalui ujian terbuka tersebut Maulidin dinyatakan lulus dan dikukuhkan sebagai Doktor ke-9 Program Doktor Pendidikan Agama Islam UIN Salatiga.
Jika pada doktor pertama ia mengembangkan media pembelajaran keislaman berbasis Generative Digital Culture, pada doktor kedua ia membawa inovasi ke arah Virtual Reality untuk pendidikan moderasi beragama pada siswa madrasah ibtidaiyah.
Dua karya doktoral tersebut memperlihatkan satu benang merah: komitmen mengembangkan pendidikan Islam yang mampu menjawab perubahan zaman melalui inovasi teknologi.
Dari Keluarga Broken Home, Menembus Batas Pendidikan
Di balik capaian akademik tersebut terdapat perjalanan kehidupan yang tidak mudah.
Sejak kecil, Maulidin tumbuh dalam kondisi keluarga broken home. Situasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang harus dihadapi sejak usia dini.
Namun, keadaan keluarga tidak dijadikan alasan untuk berhenti bermimpi.
Justru dari pengalaman tersebut tumbuh semangat untuk membangun kehidupan melalui pendidikan. Perjalanan panjang yang ditempuh akhirnya membawa Maulidin menyelesaikan dua pendidikan doktoral.
Kisah tersebut menjadi pesan penting bahwa latar belakang keluarga bukanlah batas akhir bagi seseorang untuk meraih masa depan.
“Keadaan masa lalu tidak boleh menentukan batas masa depan. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk mengubah keadaan menjadi kekuatan,” menjadi semangat yang tercermin dalam perjalanan akademiknya.
Kini Mengabdi sebagai Kaprodi PGMI Institut Asy-Syukriyyah Tangerang
Di tengah capaian akademiknya, Maulidin tidak berhenti pada pencapaian gelar. Ia kini mengabdikan kompetensi akademiknya sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Institut Asy-Syukriyyah Tangerang.
Posisi tersebut semakin memperkuat relevansi penelitian yang dikembangkannya. Sebagai akademisi yang berkecimpung langsung dalam pendidikan calon guru madrasah ibtidaiyah, pengembangan media pembelajaran berbasis VR untuk membangun sikap inklusif siswa MI memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan pendidikan madrasah di Indonesia.
Penelitian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai karya akademik di ruang sidang doktoral, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang benar-benar dimanfaatkan oleh guru, mahasiswa PGMI, madrasah, dan siswa MI.
Dua Doktor, Satu Komitmen: Pendidikan Islam yang Inovatif dan Inklusif
Perjalanan Maulidin menjadi gambaran bahwa capaian akademik bukan sekadar tentang gelar yang diperoleh, tetapi tentang gagasan dan kontribusi yang ditinggalkan.
Doktor pertama melahirkan inovasi pembelajaran berbasis GDC dan kearifan lokal. Doktor kedua menghadirkan pengembangan aplikasi VR untuk moderasi beragama dan pembentukan sikap inklusif siswa madrasah.
Dua perjalanan doktoral tersebut bertemu pada satu visi besar: mendorong pendidikan Islam agar tetap berakar pada nilai-nilai keislaman, tetapi mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi masa depan.
Dari perjalanan hidup yang penuh tantangan, dari keluarga broken home sejak kecil, hingga mampu menyelesaikan dua pendidikan doktoral, Maulidin kini memilih untuk kembali mengabdi di dunia pendidikan.
Bukan hanya membawa gelar Dr., tetapi membawa misi yang lebih besar: membangun pendidikan Islam yang moderat, inklusif, inovatif, dan relevan dengan zaman.
Dua doktor bukanlah akhir perjalanan. Justru menjadi awal pengabdian yang lebih panjang untuk madrasah, pendidikan Islam, dan generasi masa depan.