Ujian Kelayakan Disertasi Doktor PGMI: Muhammad Fikri Abdun Nasir Paparkan Model Pembelajaran Sains Integratif Berbasis Gusjigang
YOGYAKARTA — Program Studi Doktor (S3) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Ujian Kelayakan (Pendahuluan) Disertasi bagi mahasiswa Program Doktor, Muhammad Fikri Abdun Nasir, M.Pd., NIM 23304081005. Dalam ujian tersebut, Fikri memaparkan hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran sains yang mengintegrasikan pendekatan inquiry, nilai-nilai keislaman, serta kearifan lokal Gusjigang Kudus.
Disertasi yang dipresentasikan berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Sains Inquiry Training Berbasis Kearifan Lokal Gusjigang untuk Meningkatkan Nilai-Nilai Keislaman dan Pemahaman Konsep Sains Siswa SD/MI di Kudus.” Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan mengadaptasi kerangka kerja ADDIE.
Fokus utama penelitian diarahkan pada integrasi sains dan Islam melalui pemanfaatan etnosains Gusjigang Kudus, pengembangan Keterampilan Proses Sains (KPS), serta pencapaian dual target outcomes, yakni peningkatan pemahaman konsep sains sekaligus internalisasi nilai-nilai keislaman peserta didik.
Berangkat dari Kesenjangan Kognitif dan Spiritual dalam Pembelajaran Sains
Dalam pemaparannya, Muhammad Fikri Abdun Nasir menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari persoalan pembelajaran Sains/IPAS di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah yang masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan dimensi keilmuan dengan nilai-nilai spiritual.
Pembelajaran sains yang terlalu berorientasi pada aspek mekanistik dan empiris berpotensi membuat peserta didik memahami fenomena alam hanya sebagai objek kajian ilmiah tanpa menghubungkannya dengan kesadaran terhadap Sang Pencipta. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penelitian Fikri karena pembelajaran sains idealnya tidak hanya membangun kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk kesadaran spiritual dan karakter peserta didik.
Hasil studi pendahuluan (needs assessment) yang dipaparkan menunjukkan bahwa 75,60% siswa terindikasi mengalami kesenjangan kognitif-spiritual dalam pembelajaran sains. Sementara itu, integrasi nilai-nilai keislaman dalam sintaks pembelajaran sains baru mencapai 13,30%, sedangkan pemanfaatan kearifan lokal Gusjigang dalam pembelajaran sains masih berada pada angka 8,90%.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi Fikri untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran yang tidak memisahkan pengetahuan sains dari nilai-nilai keislaman dan konteks budaya lokal.
Mengembangkan Model SIT-G Berbasis Filosofi Gusjigang
Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, Fikri mengonstruksi Model Sains Inquiry Training Berbasis Kearifan Lokal Gusjigang (SIT-G). Model ini dikembangkan dengan merekonstruksi sintaks Inquiry Training Suchman dan mengintegrasikannya dengan tiga pilar utama filosofi Gusjigang, yaitu Bagus, Ngaji, dan Dagang.
Pertama, pilar BAGUS diarahkan pada penguatan etika dan kejujuran akademik. Nilai tersebut diwujudkan melalui kejujuran peserta didik dalam mencatat data eksperimen, adab dalam berdiskusi, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Kedua, pilar NGAJI menekankan kedalaman investigasi dan tadabbur kauniyah. Peserta didik tidak hanya melakukan pengamatan terhadap fenomena alam, tetapi juga diarahkan untuk memaknai fenomena tersebut sebagai ayat-ayat kauniyah yang dapat menumbuhkan kekaguman terhadap kebesaran Allah SWT. Pendekatan ini antara lain dikaitkan dengan pesan QS. Ali 'Imran ayat 190–191 tentang penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang.
Ketiga, pilar DAGANG diarahkan pada pengembangan kemandirian, resiliensi, dan inovasi berbasis etnosains. Peserta didik dilatih untuk menghadapi kegagalan dalam eksperimen, memecahkan masalah secara mandiri, serta mengembangkan produk atau solusi praktis yang berangkat dari kearifan lokal.
Melalui ketiga pilar tersebut, model SIT-G berupaya menggeser posisi peserta didik dari sekadar “pengumpul data mekanistik” menjadi pembelajar yang mampu menghubungkan bukti empiris dengan kesadaran ketuhanan. Dalam konstruksi konseptual penelitian ini, transformasi tersebut dirumuskan melalui gagasan “Juru Bicara Tuhan” (God's spokesperson), yaitu peserta didik yang mampu menyuarakan dan merefleksikan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta melalui temuan empiris dalam pembelajaran sains.
Model Teruji Valid, Praktis, dan Efektif
Penelitian R&D yang dilaksanakan pada siswa kelas IV MI di Kabupaten Kudus menghasilkan sejumlah temuan terkait kelayakan dan efektivitas model SIT-G.
Dari aspek validitas, hasil penilaian pakar menunjukkan nilai Aiken's V > 0,85. Buku model, buku panduan guru, LKPD etnosains Kudus yang mengangkat konteks Jenang Kudus dan Menara Kudus, serta instrumen asesmen dinyatakan berada pada kategori sangat valid.
Dari aspek kepraktisan, respons guru dan siswa menunjukkan tingkat kepraktisan lebih dari 88%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model SIT-G dinilai sistematis, mudah diterapkan, dan mampu mendekatkan pembelajaran sains dengan konteks kearifan lokal yang dikenal peserta didik.
Sementara itu, hasil uji efektivitas menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada sejumlah capaian pembelajaran. Berdasarkan hasil Independent Sample T-Test dan analisis N-Gain, penerapan model SIT-G menunjukkan peningkatan pada pemahaman konsep sains, Keterampilan Proses Sains (KPS), serta internalisasi nilai-nilai keislaman siswa.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa integrasi antara inquiry, etnosains lokal, dan nilai-nilai keislaman tidak hanya dapat dikembangkan secara konseptual, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan secara operasional dalam pembelajaran Sains/IPAS di SD/MI.
Kontribusi bagi Pengembangan Pembelajaran Sains di Madrasah
Dalam ujian kelayakan tersebut, model SIT-G dipandang memiliki relevansi dengan kebutuhan pengembangan pembelajaran di madrasah yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, nilai, dan kesadaran spiritual peserta didik.
Integrasi Gusjigang dalam model pembelajaran juga memberikan ruang bagi penguatan identitas budaya lokal dalam proses pendidikan. Konteks lokal seperti Jenang Kudus dan Menara Kudus tidak hanya ditempatkan sebagai objek budaya, tetapi ditransformasikan menjadi sumber belajar untuk membantu peserta didik memahami konsep sains sekaligus merefleksikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, penelitian Fikri menawarkan perspektif bahwa pembelajaran sains di SD/MI dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan integratif, dengan mempertemukan sains, Islam, keterampilan proses, dan kearifan lokal dalam satu desain pembelajaran.
Dinyatakan Layak Melanjutkan ke Tahap Promosi Doktor
Dewan Penguji memberikan apresiasi terhadap penelitian yang dipresentasikan Muhammad Fikri Abdun Nasir, khususnya pada aspek ketajaman metodologis, konstruksi teoretis, integrasi nilai keislaman dan kearifan lokal, serta relevansinya bagi pengembangan pembelajaran di tingkat SD/MI.
Melalui Ujian Kelayakan (Pendahuluan) Disertasi ini, naskah disertasi Muhammad Fikri Abdun Nasir, M.Pd. dinyatakan memenuhi standar kelayakan akademik untuk dilanjutkan ke tahapan berikutnya, yaitu Ujian Promosi Doktor, dengan tetap memperhatikan masukan dan rekomendasi Dewan Penguji untuk penyempurnaan disertasi.
Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan model pembelajaran sains integratif di madrasah, sekaligus memperkuat posisi kearifan lokal sebagai sumber belajar yang mampu menjembatani penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan penguatan kesadaran keislaman peserta didik.